Hutan Nantu dan Kepicikan (Elit) Kita

Saya sedih. Puluhan email,  SMS dan facebook messages masuk ke saya dan mengadu tentang Hutan Nantu. Sebagian di antaranya dari teman-teman yang sedang studi di luar negeri. Hutan yang merupakan one of the best primary forests in the world (salah satu hutan primer terbaik di dunia) tersebut terancam ekosistemnya, terancam ekologinya, terancam eksistensinya. Semua hanya karena keserakahan kita yang hidup sekarang ini.

Di hutan Nantu inilah terdapat hewan-hewan langka yang nyaris punah, bahkan hewan endemik khas Sulawesi. (Endemik = yang ada hanya di satu benua / pulau saja). Berbagai jenis binatang langka itu bila punah di hutan Nantu, maka anak-anak kita kelak takkan pernah melihat langsung hewan tersebut. Ya, seperti kita sekarang berkisah tentang bagaimana nikmatnya lauk “Manggaba’i”, tetap saja anak kita takkan mengerti karena manggaba’i sudah punah 10 tahun yang lalu.

Sayang sekali, keunikan dan kemahalan potensi sumber daya ilmiah yang ada di Hutan Nantu belum mampu disadari oleh elit-elit yang berpikiran pendek dan berwawasan sempit. Mereka justru berkontribusi besar untuk merusak Nantu, membiarkan sebagian orang merambah hutan, memburu binatang, mengeksploitasi kayu, rotan, emas, dll yang nilainya tak seberapa dibanding nilai ilmiah Nantu.

Sebagian orang yang ingin mengeksploitasi Nantu secara fisik, atau membiarkan proses eksploitasi itu, bisa dipastikan bukanlah berasal dari kalangan cerdik-cendekia, bukan dari kalangan yang peduli masa depan hutan, bukan pula dari kaum yang menjaga hutan karena perintah agama. Sesungguh-sungguhnya mereka merupakan orang yang merasa bahwa hutan adalah miliknya sendiri (dan anak-cucunya tak punya hak atas hutan itu), mereka adalah para pemburu ‘uang panas’ yang pasti habis dibelanjakan dalam 1-2 tahun saja, mereka adalah orang yang berjiwa selfish (egois, hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain maupun generasi masa depan). Mereka adalah penjahat.

Celakanya, para ‘penjahat bodoh’ tersebut sebagian di antaranya didukung pula oleh para ‘penguasa bodoh’ yang memberi ijin, bahkan membantu melakukan eksploitasi. Naif. Sungguh naif. Intelektual mana pun yang memahami perjalanan hutan Nantu ini akan geleng-geleng kepala betapa ada penguasa yang pikirannya bisa sepicik itu. Istilah orang Jakarta, “Nggak ilmiah amat, sih….”.

Memang ada beberapa sahabat yang telah, sedang dan terus bahu-membahu untuk menyelematkan hutan Nantu sebagai salah satu situs sains dunia. Ada yang dari Oxford University, Inggris. Ada juga dari IPB, UNG dan Universitas Gorontalo. Tetapi, ketika Lynn Clayton (Oxford) memperingatkan kita untuk menjaga “harta ilmiah” kita yang ada di Nantu, eh…dia malah diserang dengan isu-isu tak sedap ; dituding sebagai mata-mata asing lah…, dituduh ingin mengambil Nantu untuk dirinya sendiri lah…

Kasihan bu Lynn, hampir 20 tahun meneliti sambil menjaga Nantu, tapi malah dituduh macam-macam. Ada lagi yang lebih lucu, yaitu pertanyaan, “So apa so yang Miss Lynn teliti sampai puluhan tahun. Penelitian apa yang lama sekali begitu?”. Ya, itulah pertanyaan dari kalangan yang tidak pernah meneliti secara ilmiah, yaitu mereka yang tidak pernah tahu bahwa yang namanya riset adalah proses berkelanjutan (continuum) bahkan sampai ratusan dan ribuan tahun. (Catatan : Bila dihubungkan dengan hadist nabi, maka Miss Lynn inilah salah satu yang melaksanakan perintah ‘belajar sampai ke liang lahat’, entah dia sadari atau tidak).

Pikiran picik, kepentingan sesaat, penuh intrik kekuasaan dan cenderung korup itulah yang bakal merusak hutan Nantu kita. Kita mungkin hari ini tidak peduli karena tidak merasakan secara langsung akibatnya. Karakter kita orang Indonesia takkan sadar bila belum kena batunya. Tapi soal Nantu ini, marilah kita sadar sebelum kita kehilangan permata pualam yang amat berharga bagi anak-cucu kita.

Saudaraku, rakyat Gorontalo. Mari review sikap kita terhadap lingkungan dalam beberapa waktu terakhir. Kita baru sadar bahwa 10 tahun lagi Danau Limboto sudah hilang, kesadaran yang karena terlambat maka membutuhkan sekitar Rp. 900 Milyar untuk mengembalikan Danau Limboto ke kondisi yang sama dengan tahun 1975 (itu pun sudah tidak mungkin menghidupkan kembali jenis-jenis ikan yang sudah punah).

Lihat pula sungai-sungai kita. 25 tahun yang lalu dari atas sungai berkedalaman 3 meter kita masih dapat memanah udang yang ada di dasar sungai karena airnya yang jernih. Bagaimana air di sungai itu sekarang? Keruh bukan? Maknanya, kita yang hidup dalam 25 tahun terakhir telah mewariskan air yang keruh bagi anak-cucu kita tanpa kita menyadarinya…! Bahkan bila kita tidak peduli akan hal itu, berarti kita juga mewariskan ketidakpedulian itu kepada anak-cucu kita. Maka hancurlah Gorontalo kita dalam 25 tahun ke depan. Haruskah kita menunggu kehancuran itu untuk sadar, saudaraku?!

Lihatlah hutan-hutan kita, saudaraku. Lihatlah gunung-gunung kita, saudaraku. Bandingkan dengan 25 tahun yang lalu, saudaraku. Sungguh, semua kenyataan yang ada hanya akan membuktikan bahwa kita adalah generasi yang jahat, yang mungkin pantas untuk dihujat oleh anak dan cucu kita sendiri kelak ketika kita sudah berada di dalam kubur.

Lihatlah Nantu kita. Aset sains yang mahal harganya ada di sana, lebih mahal dari rotan dan kayu yang diembat dari situ, lebih bernilai secara ekonomis ketimbang emas yang didulang di situ. Tapi kita mesti cerdas, mesti berpikiran panjang. Ya… mesti ilmiah, agar kita dapat menyelamatkan aset tak ternilai harganya itu dengan cara yang elegan dan bermartabat, demi kepentingan generasi yang hidup setelah kita mati.

Catatan Facebook Elnino M Husein Mohi 12 Sept. 2009

3 Komentar

  1. senang berjumpa dengan tulisan Anda di situs ini, saya Agus Suhanto,
    salam kenal

  2. kami sedang melakukan kajian pada pengaruh pemborosan kertas pada kerusakan hutan,,, kasih komen di http://ahnku.wordpress.com/2009/10/11/cintai-lingkungan-dengan-efisisensi-kertas/ ya?? kita tunggu sebuh solusi baru untuh bangsa…

  3. Stuju dg tulisan anda. sy mulai tertarik u tau soal miss lynn di nantu coz dikoran tribun grontalo tgl 4 jan 2010, seorang elit membahas itu. sperti y anda bilang, semuax diarahkan ke issue itu. btul-btul ironis.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s