HARNETNYA

Anto sulung dari tiga bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga di mana ayahnya begitu disiplin. mendidik meereka dalam masalah tatakrama ketimuran, jadi jangankan berkata jorok, berbicara yang kurang sopan saja sudah di dampratnya. Karena itu ketika Anto emnjelang remaja, tepatnya berusia 15 tahun, dorongan masa pubernya sering dilampiaskan dengan membaca cerita porno, tentu saja dengan main “kucing-kucingan” agar tidak ketahuan oleh ayahnya. Kemudian menjelang tidur Anto sering membayangkan kembali cerita-cerita tersebut sambil mengelus-elus penisnya sampai terkadang mencapai orgasme. Dalam membayangkan, disana belum terlintas tipe wanita seperti apa, pokoknya Anto hanya membayangkan sedang bercinta dengan lawan jenis dan dilakukannya seperti dalam cerita yang dibacanya.

Suatu saat di rumah mereka kedatangan tamu, teman ibunya semasa dirinya kecil dulu. Namanya Rosinta dan ibunya memperkenalkan kepada mereka anak-anaknya sebagai Tante Sintia. Usianya tidak terpaut jauh dengan usia ibu Anto yang ketika itu berusia 36 tahun. Dalam berpakaian, Tante Sintia selalu nampak rapi. Rambutnya yang panjang lebat senantiasa digelung, body-nya padat dengan kulitnya yang mulus. Menurut cerita ibunya, ia dulu bekas penari dan rencananya akan tinggal di rumah mereka cukup lama sambil mengurus usahanya di kota itu.Awal-awal Tante Sintia berada di rumah mereka, nampak biasa-biasa saja, hanya Anto, disela-sela kesempatan sering mencuri pandang, apalagi jika dia sedang memakai daster dan buah dadanya yang besar tampak menyembul. “Wah, betapa nikmatnya kalau dapat kuremas-remas” kata Anto. Otaknya terkadang menjadi ngeres dan sering tubuh Tante Sintia yang padat berisi dimasukkannya kedalam lamunan seksnya. Namun tentunya Anto tidak berani berbuat jauh dari tiu, apalagi perangai Tante Sintia sangat sopan terhadap mereka, sehingga betapapun perasaannya bergemuruh, senantiasa disimpan dalam-dalam ketika berbicara dengannya.

 Hingga pada suatu hari, kelas Anto diliburkan karena gurunya akan mengadakan rapat persiapan ujian. Karena libur, hari itu Anto bangun agak siang. Ketika akan ke kamar mandi di ruang tengah tampak Tante Sintia sedang asyik membaca majalah. Anto memberi salam kepada Tante Sintia dan Tante Sintia pun membalasnya dengan suara merdunya. Sambil menghentikan langkahnya sejenak Anto bertanya : Kok sepi ya, yang lain pada kemana?”

ibumu tadi pamit untuk mengikuti kegiatan PKK, katanya akan ada bazar sampai sore, makanya Bi Sumi (pembantu) juga diajak.”

“o..begitu.. Tante sendiri tidak pergi?

“nanti ..kira-kira jam sembilan memang saya ada janji, sekarang kamu mandi dulu deh, nanti kita sarapan sama-sama”

Setelah mandi Anto tetap berpakaian rumah, karena memang Anto tidak ada rencana kemana-mana, sementara tampaknya Tante Sintia kembali ke kamarnya untuk berdandan sebelum mereka sarapan. Tiba-tiba Tante Sintia memanggilnya, “To, Anto…..coba kesini sebentar………..!”

“Ya Tante….” Anto langsung menuju ke kamarnya. “Ada apa Tante ?”

“Ini lho rambut Tante, sulit dibuka sanggulnya, mungkin harnetnya (jaring pembungkul sanggul) tersangkut sama jepitannya, tolong dong bantu lepaskan..!

 Anto denga sigap segera membantu Tante membongkar sanggulnya. Setelah agak lama mengusut jepitan dan harnet yang tersangkut, akhirnya sanggul Tante Sintia dapat terbuka dan seketika rambut Tante Sintia yang lebat dan wangi tergerai, membuat perasaan berdesir terkena serbakan rambutnya. Anto tidak segera melepaskan tangannya di rambut tersebut, malah jari-jarinya digunakan sebagai pengganti sisir untuk meluruskan rambutnya yang kusut. Tante Sintia tidak berkata apa-apa, hanya terkadang kepalanya di gerakgerakkan, sehingga Anto makin leluasa mempermainkan rambutnya.

Sambil memainkan rambunya, khayalan seks Anto makin menjadi-jadi, apalagi setelah menyibak rambut Tante Sintia, telihat tengkuknya yang putih mulus. Sampai tiba-tiba lamunannya terhentak oleh suara Tante Sintia, “Kenapa To, kamu senang ya dengan rambut Tante?” Anto sangat gugup, “Oo..eh..iya, rambut Tante bagus sekali”

“Ah kamu bisa saja, dulu rambut Tante lebih panjang lagi dan sering dibuat ekor kuda”

“Saya mau koq diajarin bikin rambut ekor kuda..” jawab Anto karena dalam hati agar dirinya lebih lama lagi bermain dengan rambut Tante Sintia.

Tanpa menjawab, Tante Sintia langsung mempraktekkan. Dia membagi dua rambutnya, tangan Anto mengikuti gerakannya. Belahan rambut yang satu tetap di belakang, sementara belahan yang satunya dipindahkan ke depan. Tangan Anto tetap dibimbingnya, sehingga ketika meletakkan belahan rambut yang depan, tubuhnya tambah merapat ke tubuh Tante Sintia.

Sementara tangan Anto sempat menyentuh payudara Tante Sintia yang hanya terlapisi dasternya. Tegangan semakin tinggi dan sengaja tubuh Anto semakin dirapatkan ke tubuh Tante Sintia sehingga penisnya yang sejak tadi sudah bangun di balik celana digesek-gesekkan ke pantatnya. Tante Sintia tampaknya juga menangkap usaha Anto, tapi dia pura-pura tidak memperdulikan, malah kini tangan Anto yang masih memegang belahan rambutnya di belakang dipindahkan ke depan dua-duanya, sehingga posisinya seperti dia akan menggendong Anto.

 bersambung………

1 Komentar

  1. Wau….
    Yang ginian bikin bulu merinding…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s